Testimoni Pembaca

Apa kata tokoh koperasi tentang Reborn Koperasi Pegawai

Dua ulasan panjang ini memberi gambaran kenapa buku ini relevan untuk pengurus, pengawas, manajer, dan pegiat koperasi pegawai.

Testimoni 01

Rujukan praktis untuk transformasi tata kelola koperasi pegawai

Buku karya Nurul Ihsan ini mengisi ruang yang selama ini relatif kosong dalam literatur perkoperasian Indonesia: panduan praktis berbahasa populer yang tetap menjaga substansi tata kelola. Berbeda dengan kebanyakan buku perkoperasian yang berorientasi pada filosofi atau regulasi, karya ini menempatkan diri sebagai operational handbook bagi pengurus dan pengawas koperasi pegawai yang sedang menghadapi stagnasi organisasi.

Kekuatan utamanya adalah ruh pengalaman lapangan - buku ini lahir dari praktik, bukan kompilasi literatur. Studi kasus "Koperasi Pegawai Rumah Sakit Sehat Sejahtera" yang dijahit konsisten dari Bab 1 hingga Bab 12, ditambah gaya bahasa percakapan ("Senin-Kamis", "rasa arisan RT", "ICU koperasi"), membuat narasinya hidup dan dapat dituntaskan dalam beberapa jam. Struktur dua belas babnya mengalir logis dari diagnosis, restrukturisasi, transformasi bisnis, hingga visi masa depan, dengan alur "kenapa -> apa -> bagaimana -> lalu apa" yang memudahkan pembaca menempatkan posisi koperasinya sendiri.

Empat bab yang menurut saya paling berbobot adalah Bab 7, 8, 9, dan 10. Bab 7 secara terbuka mengurai pola fraud yang biasanya dibungkus rapat - rekayasa pencairan pinjaman, "uang terima kasih", dan kongkalikong vendor - sebuah keberanian editorial yang jarang ditemui. Bab 8 menyajikan analisis tajam tentang dilema rekrutmen manajer antara profesional dan mantan pejabat, lengkap dengan tabel komparasi dan simpulan yang berimbang. Bab 9 menegaskan bahwa nilai digitalisasi terbesar justru muncul saat pengurus dapat memantau kondisi koperasi secara real-time lewat dashboard. Bab 10 menawarkan roadmap tiga fase dengan KPI kuantitatif yang siap diadopsi (NPL <3%, SHU naik 15-20%, anggota aktif naik 15%).

Secara keseluruhan, buku ini kuat di gagasan dan kerangka, serta layak menjadi rujukan praktis bagi pengurus koperasi pegawai - khususnya di lingkungan rumah sakit, BUMN, dan instansi pemerintah yang sedang melakukan transformasi tata kelola. Sebuah referensi populer yang cukup berpengaruh.

Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-AI, FINASIM. Ketua Koperasi Mitra Interna Sejahtera Depok
Testimoni 02

Bahan rujukan, pembelajaran, dan inspirasi koperasi Indonesia

Sepengatahuan saya, belum pernah ada buku yang mengupas tentang Koperasi Pegawai. Apalagi dalam sajian yang ringan tapi menggambarkan realitas yang memang terjadi pada banyak kasus dalam pengelolaan Koperasi Pegawai.

Menjadi menariknya buku "Reborn KOPERASI PEGAWAI" ini karena sebagaimana klaim penulisnya, lahir dari praktik panjang pengalaman bergelut dengan jenis koperasi yang satu ini.

Koperasi Pegawai adalah entitas koperasi yang sebenarnya mirip dengan koperasi buruh kalau di luar negeri. Karena sebenarnya, anggota koperasi pegawai adalah para pekerja yang kebetulan adalah pegawai pemerintah baik BUMN, ataupun ASN.

Nah, koperasi yang berbasis pekerja atau buruh dan pegawai tentu saja kalau mengandalkan kekuatan anggota dengan bisnis pada basis kebutuhan anggotanya akan ditentukan oleh besaran jumlah pekerja dalam suatu instansi atau perusahaan. Jadi volume usahanya akan sangat tergantung pada pelayanan usaha dari anggotanya. Maka, Simpan Pinjam dan Toko (konsumen) menjadi core inti usahanya.

Karena itu, buku ini, kekuatannya menawarkan alternatif untuk menerabas usaha dari core bisnis inti itu dengan menawarkan alternatif PT atau perusahaan yang menangani secara khusus ide-ide bisnis di luar usaha pelayanan pada kebutuhan anggota.

Alternatif lain yang ditawarkan buku ini adalah membangun budaya kerja. Sangat jarang pokok bahasan dalam koperasi menyoal praktik untuk menghidupkan budaya kerja yang profesional di koperasi. Barangkali karena prinsip-prinsip dan nilai-nilai koperasi yang penuh muatan kebaikan secara tertulis, maka jarang orang mempersoalkan implementasi penerapan nilai yang kemudian menjadi budaya kerja yang profesional dan hidup dalam lingkungan koperasi. Padahal, menghidupkan budaya sebagai karakter baik perusahaanlah titik kursial implementasi dari hidupnya ciri khas dari sebuah entitas.

Intinya buku ini menawarkan praktik, belajar dari pengalaman dan upaya-upaya riil untuk mengatasi hampir seluruh problema yang memang melekat pada Koperasi Pegawai dan koperasi pada umumnya. Sayang kalau buku ini dilewatkan oleh para praktisi koperasi, khususnya Koperasi Pegawai, Koperasi Karyawan, dan Koperasi Fungsional lainnya termasuk di kalangan TNI dan Polri. Sajiannya yang ringan gampang dipahami dan impilentatif untuk diterapkan.

Saya memandang buku ini layak menjadi bahan rujukan, media pembelajaran, sekaligus inspirasi dalam berbagai kegiatan pendidikan, pelatihan, dan pembinaan koperasi di Indonesia. Reborn Koperasi Pegawai adalah salah satu ikhtiar membangun gerakan koperasi yang lebih adaptif dan berdaya saing.

Terimakasih.

SARJONO AMSAN Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN), Bidang Pendidikan dan Pelatihan
WA